Anton Frian Yohanes Peserta SAKURA Exchange Program in Science Jepang

Anton Frian Yohanes Peserta SAKURA Exchange Program in Science Jepang

posted in: Konten, Media, Tertulis, Wawasan | 0

Siapa sih mahasiswa yang tidak ingin mengkuti kegiatan pertukaran mahasiswa (student exchange) ke luar negeri? Apalagi pertukaran mahasiswa tersebut dibiayai secara penuh. Nampaknya para mahasiswa memang berlomba-lomba untuk dapat mengikuti kegiatan pertukaran ini. Selain dapat berlibur secara gratis, para mahasiswa dan mahasiswi yang mengikuti kegiatan pertukaran sudah pasti dapat mempelajari kebudayaan negara yang dikunjungi serta yang pasti memperkenalkan kebudayaan Indonesia ke dunia luar. Seperti Anton Frian Yohanes Reynaldo yang merupakan peserta SAKURA Exchange Program in Science-Jepang 2014 yang lalu.

Berani Sukses, Berani Mencoba.

-Anton Frian Yohanes Reynaldo-

Anton Frian Yohanes Reynaldo, mahasiswa semester 7 Jurusan Teknik Elektro Insitut Teknologi Sepuluh November adalah mahasiswa yang dapat menginspirasi generasi muda Indonesia. Anton, begitu panggilan akrabnya, merupakan peserta Sakura Exchange Program in Science yang merupakan program dari pemerintah Jepang (Japan Science and Technology Agency), untuk memberikan bekal kepada calon pemimpin-pemimpin di Asia dalam bidang sains dan teknologi melalui fasilitas kunjungan ke Jepang secara langsung. Selain prestasinya di ajang Sakura Exchange Program in Science, Anton juga dipercaya sebagai asisten dan training coordinator di Power System Simulation Laboratory ITS.

Kali ini Anton akan berbagi kisah untuk kamu mengenai pengalamannya mengikuti SAKURA Exchange Program in Science di Jepang. Yuk Simak!

Halo Anton! SAKURA Exchange Program in Science itu program apa sih?

Jadi, Japan-Asia Youth Exchange Program in Science atau biasa di sebut SAKURA Exchange Program in Science adalah program dari pemerintah Jepang (Japan Science and Technology Agency) untuk memberikan bekal kepada calon pemimpin-pemimpin di Asia dalam bidang sains dan teknologi melalui fasilitas kunjungan ke Jepang secara langsung. Nah, Indonesia termasuk dari 15 negara yang diberikan undangan untuk mengikuti program SAKURA ini.

Anton Frian Yohanes Peserta SAKURA Exchange Program in Science Jepang 1

Anton bersama Mahasiswa Thammasat University, Thailand.

Berapa jumlah mahasiswa Indonesia yang terpilih untuk mengikuti kegiatan SAKURA Exchange Program in Science ini?

Yang terpilih untuk kegiatan Sakura Exchange Program ini dari ITS saat itu ada 10 orang dan mendapat beasiswa kunjungan ke Kumamoto University, Jepang. Kalau dari seluruh kampus di Indonesia sekitar 50 orang yang mendapat kesempatan dalam 1 tahun, tapi untuk tahun ini kemungkinan sama atau bertambah.

Anton Frian Yohanes Peserta SAKURA Exchange Program in Science Jepang 2

Anton bersama Prof. Miyauchi dan Mahasiswa Kumamoto University, Jepang.

Ceritakan dong pengalaman kamu di SAKURA Exchange Program in Science?

Di Sakura Exchange Program ini, untuk delegasi ITS, acaranya diadakan selama satu minggu (2 sampai 8 Agustus 2014) di Kumamoto University, Jepang. Kumamoto letaknya di bagian selatan Jepang, terkenal dengan sumber airnya yang nikmat buat diminum loh .

Kegiatan yang kami lakukan cukup banyak. Hari pertama setelah tiba di Fukuoka International Airport, kami dijemput oleh Prof. Tsuyoshi Usagawa dan diantar ke penginapan.

Selama satu minggu penuh kami menginap di Hotel Toyoko Inn. Dalam hal ini kita bisa belajar bahwa pemerintah Jepang sangat serius dalam membuat suatu program, bahkan kenyamanan akomodasi tamu sangat diperhatikan sekali

Anton Frian Yohanes Peserta SAKURA Exchange Program in Science Jepang 3

Anton bersama Prof. Miyauchi dan Mahasiswa Kumamoto University, Jepang.

Hari kedua: Hari ini adalah hari kedua kami di Jepang. Nah hari ini jadwalnya kita mau melihat Mount Aso, istilahnya gunung “bromo” nya Jepang lah. Oh iya lokasi kita tepatnya di Prefektur Kumamoto, bagian dari Pulau Kyushu (beda pulau sama Tokyo, Osaka). Untuk menuju ke Mt. Aso kita naik angkutan umum lho, sambung menyambung naik Tram, Local Train, sama Local Bus. Eh pas tiba di Mt. Aso, ternyata hujannya deras dan berkabut. Yah maklumlah modal nekat tanpa ngeliat ramalan cuaca. Tapi untungnya hujannya sebentar, dan lumayan lah bisa ngeliat kaldera nya Mt. Aso.

Hari ketiga: Ini merupakan kickoff meeting dengan pihak Kumamoto University, kampus dimana kami akan melakukan laboratory visit and research. Jadi, pada meeting kali ini kami ditemani oleh Prof. Tsuyoshi Usagawa dan Prof. Kishida yang memberikan penjelasan mengenai Kumamoto University serta program-program yang tersedia (Magister, Doktoral, Short-term Exchange, dan program lainnya). Sangat menarik sistem pembelajaran di universitas Jepang yang disampaikan, betul-betul terstruktur dan fasilitasnya sangat kondusif. Tiba-tiba punya keinginan mau lanjut studi Master disini. Nah abis itu kita juga berkesempatan ngeliat data center, museum kampus, kantin, computer laboratory, dan banyak tempat lain yg dilengkapi peralatan IT serba canggih dah. Pokoknya keren pol!

Anton Frian Yohanes Peserta SAKURA Exchange Program in Science Jepang 4

Hari keempat: Wonderful and so much be blessed! Itulah kira-kira yg menggambarkan perjalanan hari ketiga kemarin. Jadi, pada tanggal 5 Agustus 2014 ini aku genap berumur 20 tahun! Gak nyangka dapet anugerah begitu indah dari Tuhan untuk merasakannya di Jepang, bener-bener gapernah nyangka.

Jadi, tepat pukul 12 malam para komplotan Sakura Exchange Program sudah mempersiapkan kejutan yang cukup mengesalkan, tapi pastinya berkesan banget lah. Jadi, setelah melewati malam yang indah, paginya kami bergegas untuk ke Kastil Kumamoto, salah satu kastil megah yang ada di prefektur Kumamoto. Setelah puas mengunjungi Kumamoto Castle dan melewati sesi foto yang begitu banyak, kami langsung berangkat ke kampus untuk stay di laboratorium tujuan masing-masing. Aku dan Vidi berkesempatan stay di Power System Laboratory, di bawah bimbingan Prof. Hajime Miyauchi. Karena profesor sedang ada meeting di Tokyo, jadi kami disambut oleh dua orang mahasiswa Indonesia yg sedang melanjutkan studi doktoralnya, yaitu Bapak Afandi dan Bapak Ferdian. Banyak yang kami diskusikan mulai dari topik mengenai penelitian, studi, hingga persoalan melahirkan di Jepang.

Anton Frian Yohanes Peserta SAKURA Exchange Program in Science Jepang 5

Anton saat berkegiatan di Sakura Exchange Program in Science Jepang.

Hari Kelima: Nah! Pada hari kelima ini hari paling efektif! Dari pagi sampai sore kita semua udah standby di lab masing-masing, menyiapkan mental dan pikiran untuk berinteraksi secara ilmiah dengan para ahli di negeri maju. Aku dan Vidi langsung bergegas ke Lab dan kami langsung disambut oleh Prof. Hajime Miyauchi yang sangat ramah, penuh semangat dan murah senyum. Ada juga beberapa member lab yang sedang melanjutkan studi magister dan doktoral yang juga menyambut kedatangan kami. And the pressure begin, each of Master students present their research in front of us, the bachelor student that still in 5th grade. Tapi aku merasa biasa aja, dengan penyertaan Tuhan kami mampu menanggapi presentasi mereka. Dan tidak mau kalah dong, kami juga memberikan presentasi mengenai ITS, CommTECH dan khususnya Laboratorium Teknik Sistem Tenaga ITS yang paling ngetop se-Indonesia, eh‬ se-ASEAN malah. Setelah presentasi kami diajak oleh profesor untuk mengunjungi beberapa laboratorium dan sistem pembangkit, salah satunya adalah PV (Photovoltaic).

Saat kunjungan ini lah kami baru tahu bahwa salah satu PV yang ada di Kumamoto University merupakan buatan Honda (Ternyata Honda sempet bikin PV juga loh, nggak cuman bikin motor aja sama mobil). Oh iya, konsumsi energi di Kumamoto University dapat dimonitor secara online loh melalui website, jadi kita bisa melihat berapa banyak daya listrik yang dipakai tiap ruangan dalam jangka waktu tertentu bisa kita lihat, mantap! Bahkan, pemerintah juga mengirimkan data power consumption setiap 5 menit sekali. Setelah berjibaku dengan ilmu sistem tenaga, tiba saatnya kami membagikan makanan khas Indonesia yang telah kami bawa, yaitu lapis surabaya dan kripik tempe malang. Ternyata orang Jepang suka banget sama makanan Indonesia. And also there’s a special moment, ketika aku mengatakan kepada Prof. Hajime Miyauchi bahwa aku tertarik untuk lanjut studi magister di Kumamoto University, beliau sangat welcome dan bersedia menjadi supervisor aku dan Vidi. Aku berharap semoga aku bisa meneruskan studi di Jepang. Nah, pada malam harinya tibalah saatnya arek-arek suroboyo iki ngebolang di Shimatori, jalanan panjang dengan berbagai pilihan kesenangan.

Apa saja yang kamu persiapkan untuk ikut program ini ?

Persiapan untuk Sakura Exchange Program ini: pertama, kemampuan bahasa Inggris pastinya. Nilai TOEFL minimal harus 500 supaya bisa ikut. Kedua, mantapkan motivasi kita mau ikut apa. Karena pada saat wawancara, pasti ditanyakan kenapa kita mau ikut dan apa manfaatnya bagi kita. Ketiga, wawasan tentang Jepang itu sendiri. Soalnya pas awal ada tes tulis tentang Jepang.

Selain itu aku melengkapi berkas yaitu di antaranya :

  1. Sertifikat TOEFL minimal 500
  2. Transkrip IPK minimal 3.00
  3. Formulir Pendaftaran
  4. Motivation Letter
  5. Letter of Recommendation (dari kepala jurusan atau dosen pembimbing). Serta harus sudah punya paspor ya.

Anton Frian Yohanes Peserta SAKURA Exchange Program in Science Jepang 6

Anton saat menjadi delegasi di Asia Africa Smart City Summit.

Bagaimana dengan proses seleksi di SAKURA Exchange Program in Science ini?

Proses seleksi Sakura Exchange Program in Science Jepang itu ada:

  1. Administras atau seleksi Berkas
  2. Tes Tulis
  3. Wawancara

Jeda waktu antar tahap kira-kira 1 sampai 2 minggu. Jadi prosesnya dari daftar sampai pengumuman diterima memakan waktu kira-kira 1 sampai 2 bulan.

Menurutku tes tulis paling sulit, dan paling banyak juga mengeliminasi peserta, tapi kalau yang paling menegangkan itu wawancara. Mungkin karena itu seleksi terakhir ya dan lucunya aku hampir telat datang karena ketiduran. Persis 10 menit sebelum wawancara dimulai, aku sampai di kantor International Office ITS dengan ngos-ngosan dan penuh keringat. Jadi pelajaran berharga juga jadinya bagi aku, usahakan kalau mau wawancara jangan sampai terlambat.

Untuk informasi mengenai SAKURA Exchange Program in Science, bisa diakses dimana?

Nah! Untuk kamu yang tertarik mengikuti kegiatan Sakura Exchange Program in Science ini, kamu bisa mengakses informasinya di http://ssp.jst.go.jp/EN/ . Oh iya, program ini baru dimulai tahun 2014 loh, jadi kemungkinan akan dibuka juga untuk tahun-tahun selanjutnya.

Anton Frian Yohanes Peserta SAKURA Exchange Program in Science Jepang 7

Anton Frian Yohanes bersama Honorable Delegate di Asia Youth Energy Summit 2015.

Pengalaman berharga apa sih yang kamu peroleh selama mengikuti kegiatan tersebut?

Selain ilmu dan budaya Jepang, di Sakura Exchange Program ini aku belajar tentang kehidupan masyarakat di Jepang. Bagaimana sifat orang Jepang yang begitu kerja keras (sampai-sampai jarang ada yang mau menikah dan punya anak), penerapan teknologi yang luar biasa (banyak museum sains yang menarik dan seru), penggunaan transportasi massal yang betul-betul tertata dan terintegrasi. Dan pastinya wawasan aku semakin luas tentang dunia. Bikin aku jadi ketagihan mau jalan-jalan dan keliling ke negara lain. Oh iya, ada yang menarik lagi yang aku pelajari di Jepang tentang penggunaan sumber energi terbarukan untuk pembangkit listriknya.

Jadi, hampir seluruh daerah di Jepang menggunakan PV (photovoltaic) dan Wind Turbine sebagai sumber energi terbarukan. Nah kan biasanya kalau di Indonesia, PLN yang menjual listrik ke masyarakat kalau di Jepang, masyarakat di pedalaman yang belum tersambung ke PLN tetap bisa menikmati listrik menggunakan PV dan Kincir itu.

Anton Frian Yohanes Peserta SAKURA Exchange Program in Science Jepang 8

Anton bersama Tim di Asia Pacific Student Conference.

Perbedaan apa yang kamu rasakan, sebelum dan setelah ikut kegiatan tersebut?

Perbedaan sebelum dan setelah aku ikut Sakura Exchange Program, pertama pastinya International Exposure. Sebelum ikut masih canggung kalau ngobrol sama orang luar, tapi setelah ikut jadi seru dan kepengen punya banyak temen dari luar negeri karena berbagi pengalamannya pasti seru.

Apakah program ini sepenuhnya dibiayai? Bagaimana dukungan pemerintah RI untuk perwakilan yang ikut ke Jepang?

Yap! SAKURA Exchange Program in Science ini dibiayai dari pemerintah Jepang melalui badan yang bernama Japan Science and Technology Agency. Mulai dari visa, akomodasi selama di sana, tike pesawat pulan-pergi, sampai uang saku ditanggung. Nah, kebetulah kalau mengunjungi kedutaan RI disana tidak (karena memang yang merancang programnya full dari JST Agency), tapi kami tetap diberikan kontak kedutaan kok, jadi aku cukup puas dan aku rasa pemerintah mendukung program ini.

Anton Frian Yohanes Peserta SAKURA Exchange Program in Science Jepang 9

Anton bersama Tim di Asia Pacific Student Conference.

Selain menjadi peserta di ajang ini, apa lagi sih prestasi kamu?

Prestasi yg pernah aku raih :

  1. The First Champion of National Electric Power System Competition (NESCO) 2015 @ UGM, Jogja (Mei 2015
  2. Indonesia Delegate in Asia Africa Smart City Summit 2015 @ Trans Studio Hotel, Bandung (April 2015)
  3. Honorable Delegate in ASEAN Youth Energy Summit 2015 @ NUS, Singapore (Maret 2015)
  4. Grantee of Japan-Asia Youth Exchange Program in Science @ Kumamoto University, Japan (Agustus 2014)
  5. Indonesia Delegate in Asia Pacific Student Conference (APSC) 2013 @ UTP, Malaysia (Desember 2013)
  6. Delegate in ITS Excursion Study to Thailand 2013 @ Chulalongkorn University & KMUTT, Thailand (September 2013)

Kalau digambarkan dalam 3 kata, menurut kamu bagaimanasih karakter anak muda Indonesia?

Anak muda Indonesia itu: Cerdas, Inovatif, Kreatif

Cerdas:  Anak-anak muda Indonesia sering juara olimpiade di mana-mana, kemampuannya mantap juga di bidang non akademis.

Inovatif: Banyak inovasi-inovasi yg bisa dibikin sama anak muda kok, lihat saja berapa banyak pkm per tahunnya yang dibuat mahasiswa.

Kreatif: Ide-ide dan gagasan anak-anak muda Indonesia banyak yang out of the box dan membanggakan.

Tapi, sayangnya belum semua anak muda mengoptimalkan passion dan kemampuannya dengan cerdas, Inovatif, Kreatif. Padahal fondasinya sudah ada, tinggal mau coba apa tidak.

Anton Frian Yohanes Peserta SAKURA Exchange Program in Science Jepang 10

Anton bersama Tim di ITB International Energy Conference.

Apa sih harapan dan pesan Anton untuk generasi muda Indonesia?

Cari tahu passion dan keahlian kita apa, upgrade (bisa lewat lomba, workshop, seminar, beasiswa, kompetisi), dan share dengan teman-teman yang membutuhkan, dan kalau bisa, beri dampak bagi sekitar melalui passion dan keahlian yang kita miliki.

Para ahli mengatakan bahwa di usianya yang ke 100 tahun Indonesia akan memiliki Generasi Emas. Siapkah kita menjadi bagian dari Generasi tersebut ? Yuk berproses dan kita tunjukkan.

Itulah kisah inspiratif yang Anton bagikan khusus untuk kamu generasi muda Indonesia. Sejatinya banyak jalan untuk menjadi sukses, banyak cara untuk mencapai impian, namun semuanya tergantung seberasa besar kemauan.


[Bernhart Farras / Bernhart Farras]