David Yitzack Delegasi di “World Conference on Youth” Sri Lanka

David Yitzack Delegasi di “World Conference on Youth” Sri Lanka

posted in: Konten, Media, Tertulis, Wawasan | 0

Menjadi salah satu perwakilan di ajang Internasional tentu dambaan hampir semua pemuda Indonesia. Selain dapat berkontribusi di ajang berkelas internasional, hal tersebut juga dapat menjadi pengalaman yang sulit dilupakan oleh siapapun yang berhasil memperolehnya. David Yitzack Pattiruhu adalah salah satu yang dapat menikmati hal tersebut. David adalah Delegasi Indonesia untuk “World Conference on Youth” di Sri Lanka.

Nikmati proses, bukan sekadar sukses!

-David Yitzack Pattiruhu-

David Yitzack Pattiruhu, pemuda yang lahir sejak 21 tahun lalu ini merupakan sosok yang dapat dijadikan sebagai contoh. David yang saat ini masih berkuliah di Universitas Negeri Jakarta berhasil menorehkan banyak prestasi membanggakan, diantaranya : XL Future Leaders Batch 3, 30 besar paper terbaik pada acara “Indonesia Scholars International Concention” di Kings College London, Delegasi Indonesia untuk “World Conference on Youth” di Kolombo, Sri Lanka, Nominasi “Nudge Global Leadership 2014” di Belanda.

David mengaku bahwa semua prestasi tersebut dia peroleh dengan tidak mudah. Banyak pengorbanan serta usaha luar biasa yang harus dilakukan David.

Lalu bagaimana kerja keras David untuk berhasil menggapai prestasi-prestasi tersebut? Berikut adalah interview Hartroopers dengan David Yitzack Pattiruhu.

Hi David! Sedang sibuk apa sekarang?

Hi Indonesia Sekarang. Saat ini aku sedang sibuk menyiapkan masa depan yang lebih baik. Aku sibuk kuliah dan magang dan siap-siap membuat skripsi. Selain itu aku sibuk mengelola sebuah proyek yang rencananya akan bekerjasama dengan universitas, kementrian, institusi non pemerintahan dan salah satu museum di Jerman yang fokus pada pemasaran pariwisata khususnya museum. Aku juga sibuk menyukseskan konferensi kepemudaan terbesar di Indonesia yaitu “Indonesian Youth Conference  2015”.

David Yitzack Delegasi di “World Conference on Youth” Sri Lanka 1

David Yitzack Student XL Future Leaders

Apa semua kegiatan tersebut tidak mengganggu jadwal kuliah David?

Sampai saat ini belum pernah mengganggu, dan masih bisa dikelola dengan baik lho, karena aku tahu mana yang harus aku utamakan. Jadi semoga tidak akan pernah mengganggu. Sejauh ini belum ada kendala, saya mah menjalaninya dengan asyik, tulus, dan ikhlas aja.

Bagaimana sih cara David bisa memperoleh banyak prestasi yang membanggakan?

Awalnya sih karena adanya niat untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba tantangan baru yang lebih menantang. Jadi aku inisiatif mencari info mengenai konferensi atau kompetisi apa saja yang akan dilaksanakan dalam waktu 6 bulan ke depan.

Apa saja prestasi David di Konferensi tingkat internasional?

Ada beberapa diantaranya  Delegasi Indonesia untuk “World Conference on Youth” di Kolombo, Sri Lanka dan Nudge Global Leadership Challenge 2014.

Nudge Global Leadership Challenge 2014 adalah sebuah acara yang mengumpulkan 60 profesional muda dari lima benua. Acaranya diselenggarakan tiga hari dengan topik “leadership” dan “sustainability” dalam bentuk konsep acara berupa diskusi, seminar, bahkan debat.

David Yitzack Delegasi di “World Conference on Youth” Sri Lanka 2

David Yitzack mahasiwa UNJ yang berprestasi

Tahapan apa saja yang David ikuti di ajang tersebut?

Aku melewati beberapa tahapan seleksi untuk bisa mewakili Indonesia pada acara tersebut. Seleksinya terdiri dari seleksi administrasi dan wawancara. Aku lulus seleksi administrasi. Lalu lanjut pada tahapan wawancara, aku harus bersaing dengan sekitar lima pemuda-pemudi Indonesia lainnya yang notabene sudah bekerja pada saat itu. Itu adalah sebuah tantangan terbesar bagi aku untuk bisa bersaing dalam acara yang disponsori oleh perusahaan kelas dunia, seperti Unilever, Danone Nutricia, ABN AMRO, Heineken, dan masih banyak lagi. Tantangannya aku harus bersaing dengan mereka, sementara saat itu aku masih berkuliah di semester lima. Dan hanya satu untuk perwakilan dari Indonesia.

Event itu bukan untuk mahasiswa, tapi aku tetap coba. Karena penilaian mereka tidak hanya pada status aku mahasiswa atau bukan, tapi menitikberatkan penilaian pada pengalaman apa yang sudah aku lalui. Intinya, aku lulus seleksi administrasinya, tapi belum beruntung pada tahapan wawancara. Sudah bisa lulus seleksi administrasinya dan masuk menjadi nominasi bagi Indonesia saja sudah bangga lho.

Apa syarat mengikuti ajang tersebut?

Syarat mutlak untuk seleksi tahun ini adalah setidaknya sudah mendapatkan gelar sarjana, berumur 23 sampai 33 tahun, fasih dalam Bahasa Inggris (berbicara dan menulis), dengan memiliki ketertarikan pada isu “leadership” dan “sustainability”. Yang dinilai apa saja? Tentunya calon peserta sudah memenuhi syarat di atas. Lalu peserta memiliki pengalaman yang relevan dengan acara itu. Fokus penilaian yang pasti adalah pada isian formulir online yang dikirimkan.

Lalu bagaimana cerita David saat menjadi Delegasi Indonesia untuk World Conference on Youth di Kolombo, Sri Lanka?

Yang Sri Lanka itu namanya “World Conference on Youth 2014”. Jadi dari tanggal 6 sampai 10 Mei 2014 di Bandaranaike Memorial International Conference Hall, saya berdikskusi, mengkaji, serta tukar pikiran dengan pemuda dari seluruh negara dalam tema besarnya yaitu “Mainstreaming Youth in the Post-2015 Development Agenda”. Acara tersebut dihadiri sekitar 1.500 partisipan, setengahnya adalah pemuda yang berusia 18 sampai 29 serta 350 partisipan dari kaum terpinggirkan. Jadi jangan heran kalau ketemu delegasi lainnya yang hanya memakai cawat di konferensi itu. Pada akhirnya, konferensi ini menghasilkan “Colombo Declaration on Youth. Untuk mengetahui lebih jauh “Colombo Declaration on Youth , kita bisa akses websitenya di http://wcy2014.com.

David Yitzack Delegasi di “World Conference on Youth” Sri Lanka 3

David di World Conference on Youth 2015.

Bagaimana awalnya kamu bisa ikut pada acara World Conference on Youth 2014?

Pertama kali sih berawal dari niat yang besar untuk ikut konferensi bertaraf internasional. Akhirnya berusaha dan berinisiatif cari informasi yang relevan dan kredibel mengenai hal tersebut, pastinya saya mencari konferensi yang sesuai dengan hati saya, yap betul sekali tentang kepemudaan, ditemukanlah sebongkah harapan untuk menjadi delegasi Indonesia bagi “World Conference on Youth 2014”.

Saya mendaftar “World Conference on Youth 2014” , lalu diseleksi, ternyata saya gagal dalam pemilihan delegasi. Beberapa minggu berjalan setelahnya, saya mendapatkan telepon dari seseorang yang berbahasa Inggris berlogat ke-India-an. Saya masih ingat ketika itu saya dalam perjalanan menuju kampus, tepatnya di saat saya baru saja menginjakkan kaki di stasiun Cikini. Intinya, beliau mengonfirmasi alamat email yang saya miliki dan beberapa hari kemudian ada email masuk yang menyatakan bahwa saya terpilih menjadi delegasi Indonesia yang bertugas sebagai peninjau (observer).

Apa yang kamu siapkan untuk ikut di World Conference on Youth 2014?

Hanya ada tiga hal yang saya siapkan untuk “World Conference on Youth 2014” yaitu: mental, pengetahuan untuk bernegosiasi, dan pastinya melatih diri untuk berkomunikasi efektif dalam Bahasa Inggris.

Apa saja sih syarat ikut ajang World Conference on youth 2014?

Syaratnya untuk “World Conference on Youth 2014” adalah harus berusia antara 18 sampai 29 tahun dan pastinya harus berjiwa muda yang siap mewakili negara dan atau organisasinya. Iya…dua hal itu aja yang harus dipenuhi. Sisanya, panitia akan menilai dari form aplikasi yang peserta isi.

Siapa penyelenggara World Conference on Youth 2014?

Acara “World Conference on Youth 2014” dilaksanakan oleh Government of Sri Lanka, khususnya Ministry of Youth Affairs and Skills Development of Sri Lanka dan United Nations.

Ada rangkaian acara apa saja di World Conference on Youth 2014?

Rangkaian “World Conference on Youth 2014” adalah :

Hari pertama, kami diberangkatkan keluar kota dari Colombo yang ada di sebelah barat Sri Lanka ke Hambantota yang ada di sebelah selatan Sri Lanka. Kami melakukan pembukaan acara di gedung Hambantota MRICC.

Hari kedua sampai hari keempat, kami mengawalinya dengan sesi Main Plenary mengenai Mainstreaming Youth in the Post-2015 Agenda – Looking back, What We Want, and Taking Action. Lalu ada Roundtable Plenaries and Breakout Sessions – Looking back, What We Want, and Taking Action yang membicarakan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Achieving Good Governance and Accountability
  2. Inclusive Youth Participation at All Levels
  3. Youth Rights
  4. Globalization / Inclusive Youth-led Development
  5. Ending Systematic Inequalities
  6. Gender Equality
  7. Empowering Marginalized Youth Including Most at Risk Young People
  8. Realizing Equal Access to Quality Education
  9. Full Employment and Entrepreneurship
  10. Poverty Eradication and Food Security
  11. Promoting Healthy Lives and Access to Health
  12. Environmental Protection, Emergency Preparedness, and Youth Centered Urbanization
  13. Realizing Peace, Reconciliation, and Ending Violence
  14. Ensuring Inclusive Recreation, Sports, and Cultures

Dalam tiga hari itu, kami juga disibukkan dengan perumusan “Colombo Declaration on Youth”. Kami juga diberikan fasilitas bus tingkat untuk menikmati keindahan Colombo di malam hari lhoo.

Hari kelima atau hari terakhir adalah penutupan acara “World Conference on Youth 2014”.

David berperan sebagai apa di World Conference on Youth 2014?

Ya untuk “World Conference on Youth 2014” saya berperan sebagai satu-satunya delegasi peninjau (observer) dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan saya bersyukur akan hal tersebut. Karena kesempatan seperti ini tidak mudah untuk didapatkan.

David Yitzack Delegasi di “World Conference on Youth” Sri Lanka 4

David bersama Generasi Masa Depan Ambon di Ujung Jurang Desa Soya.

Siapa saja yang boleh mengikuti World Conference on youth 2014?

Yang boleh ikut “World Conference on Youth 2014” adalah mereka yang memenuhi persyaratan di atas, berusia antara 18 sampai 29 tahun dan pastinya harus berjiwa muda yang siap mewakili negara dan atau organisasinya.

Apa yang menarik dari ajang World Conference on Youth 2014?

Yang menarik World Conference on Youth bagi aku adalah, bertemu dengan pemuda-pemudi seluruh dunia yang tergabung dengan komunitas atau organisasi mereka yang berskala lokal, nasional, dan internasional merupakan hal yang menarik dalam acara ini. Aku ketemu teman baru dari Meksiko, Belanda, Jerman, Slovakia, India, dan tak lupa dari Sri Lanka. Rata-rata mereka adalah United Nations Youth Delegate bagi negaranya masing-masing. Pengalaman baru yang cuma bisa saya temui di acara tersebut adalah ikutan rapat tingkat dunia.

Bagaimana cara David membagi waktu kuliah dengan kegiatan di luar kampus?

Dalam membagi waktu, saya memakai skala prioritas berdasarkan kepentingannya. Tak jauh berbeda dari pemuda-pemudi lainnya di luar sana, saya menjadwalkan segala halnya dari hal yang kecil sampai yang besar, bahkan dari seminggu sebelumnya. Jadi saya tahu mau melakukan apa di minggu depan berdasarkan penjadwalan seminggu sebelumnya. Oh ya…biasanya saya menggunakan teknologi Google Keep dan Google Tasks untuk menjadwalkan segala halnya.

Saya mengabdikan diri untuk berkuliah di hari Senin sampai Jumat selama jam 08:00 – 16:00. Kalau tidak ada tugas atau kegiatan lainnya, saya biasanya menghabiskan waktu bersama teman di kampus untuk mengobrol dan berdiskusi selama jam 17:00 sampai selesai. Kalaupun ada tugas atau kegiatan biasanya berupa rapat bareng panitia Indonesian Youth Conference 2015. Lalu pengecualian untuk hari Senin dan Kamis, saya mengabdikan diri kepada sebuah organisasi antarpemerintah terbesar di Indonesia dari pagi hari sampai siang hari demi mempersiapkan masa depan yang lebih cerah. Hari Sabtu dan Minggu, saya selalu berusaha untuk menjadikan dua hari itu sebagai hari istirahat di rumah dan kumpul bersama teman serta pastinya bersama keluarga.

Apa tips David agar bisa berprestasi baik di bidang akademik maupun non akademik?

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk dapat berprestasi. Kita tentunya dapat berpresatsi dengan cara kita masing-masing. Namun untuk hal tersebut yang kita butuhkan adalah inisiatif dan selalu dibaluti dengan niat.

David Yitzack Delegasi di “World Conference on Youth” Sri Lanka 5

David bersama Generasi Masa Depan SD. Negeri Hatalai Ambon.

Apa sih harapan David untuk anak muda Indonesia?

Aku berharap pemuda Indonesia maumpu menjadi sosok pemuda yang

Baik : Karena disamping ramah, anak Indonesia juga teratur dan suka menolong

Potensial: Mempunyai potensi (kekuatan, kemampuan, kesanggupan)

Inisiatif: Memiliki inisiatif dan prakarsa

Kreatif:  memiliki daya cipta atau memiliki kemampuan untuk menciptakan

Tasamuh : Memiliki toleranais dan keluasanpikiran.

Hal-hal tersebut saya rasa mampu menciptakan generasi muda cemerlang.


[Bernhart Farras / Bernhart Farras]