Dimas Yunianto Putro Presenter Paper Research Nanotechnology Korea

posted in: Konten, Media, Tertulis, Wawasan | 0

Terbang keluar negeri merupakan hal umum bagi sebagian warga Indonesia. Banyak tujuan seseorang terbang ke luar negeri, untuk berlibur, perjalanan bisnis atau melanjutkan pendidikan. Namun berbeda halnya dengan Dimas Yunianto Putro, mahasiswa yang satu ini berkesempatan pergi ke beberapa negara untuk mempresentasikan paper yang ia buat di beberapa konferensi tingkat global. Salah satunya menjadi presenter termuda Paper Research Presenter about Nanotechnology di Korea.

One Semester, One Country

-Dimas Yunianto Putro-

Dimas Yunianto Putro adalah mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Mahasiswa yang juga merupakan The Most Outstanding Student Finalist (Mahasiswa Berprestasi Utama) 2015 in Engineering Faculty, University of Indonesia ini adalah mahasiswa yang benar-benar selalu merealisasikan motto hidupnya. Tidak main-main, pada tahun 2014, Dimas terpilih sebagai presenter termuda Paper Research Presenter about Nanotechnolog for Biomedic Innovation in International Conference on Supply Chain and Technology Innovation (ICOSTI) di Korea Selatan.

Kali ini team Indonesia Sekarang berhasil menggali informasi lengkap dari kesuksesan Dimas sebagai presenter termuda di Paper Research Presenter about Nanotechnolog for Biomedic Innovation in International Conference on Supply Chain and Technology Innovation (ICOSTI) di Korea Selatan.

Hi Dimas! Apa kegiatan kamu saat ini?

Sekarang aku sibuk kuliah sekaligus penelitian untuk skripsi. Dan aku juga diamanahkan sebagai Ketua Umum Forum Energi Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, yaitu komunitas studyclub untuk orang-orang yang concern di renewable energy (www.forgiftui.co.vu). Selain itu aku sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti event di beberapa negara bulan Agustus nanti.

Sampai saat ini, prestasi apa saja yang pernah Dimas peroleh?

Beberapa prestasi yang pernah aku raih, diantaranya :

  • The Most Outstanding Student Finalist (Mahasiswa Berprestasi Utama) 2015 in Engineering Faculty,

University of Indonesia

  • JENESYS Student Exchange Program visited Honda Company in Kumamoto Prefecture, Japan on

September 2014

  • Paper Research Presenter about Extraction Metallurgy in Annual International Scholars Conference

(AISC) Taiwan on April 2013

  • Paper Research Presenter about Nanotechnology for Biomedic in International Conference in Natural

Science, Environment and Technology (ICNSET) Thailand on November 2013

  • Paper Research Presenter about Nanotechnology for Biomedic Innovation in International Conference

on Supply Chain and Technology Innovation (ICOSTI) South Korea on May 2014.

Bagaimana kamu bisa memperoleh semua prestasi tersebut?

Aku juara 1 Mahasiswa Berprestasi disebut Mahasiswa Berprestasi (Mapres) utama di tingkat jurusan karena ada Mapres bidang penelitian, olahraga dan lainnya. Di tingkat fakultas aku masuk 5 besar. Saat itu yang menang angkatan 2011. 1 tahun yang akan datang semoga aku bisa mewakili Fakultas Teknik ke tingkat universitas.

Lalu yang JENESYS aku mewakili Kementrian Riset & Teknologi RI untuk ke Jepang selama 1 minggu. Dan ini fully funded. Disana aku pergi ke Pusat Pembangkit Listrik Matahari di Prefektur Kumamoto Japan International Cooperation Center (JICE).

Yang luarbiasa aku bisa mencapai targetku yaitu menjadi presenter termuda di ajang Paper Research Presenter about Nanotechnology for Biomedic Innovation in International Conference on Supply Chain and Technology Innovation (ICOSTI) Korea Selatan.

Apa makna dibalik tagline kamu “One Semester, One Country”?

Tagline ini baru aku buat di semester 2. Aku sangat suka jalan-jalan. Nah, aku tahu untuk jalan-jalan ke beberapa negara pasti membutuhkan dana yang cukup besar. Melalui paper dan conference aku bisa pergi ke beberapa negara secara gratis. Selain itu, aku juga berprestasi dan bisa membawa nama baik kampus khususnya Negara Indonesia.

Prestasi mana yang menurut Dimas merupakan pencapaian paling membanggakan?

Menurut aku yang paling membanggakan adalah menjadi presenter termuda di Paper Research Presenter about Nanotechnology for Biomedic Innovation in International Conference on Supply Chain and Technology Innovation (ICOSTI) Korea Selatan. Saat itu aku dan salah satu temanku merupakan satu-satunya perwakilan dari Indonesia. Disana aku presentasi tentang Nanotechnology untuk fashion. Hampir semua pesertanya  bergelar profesor dan PhD dari Korea serta USA.

Waktu itu aku membuat penelitian mengenai Parfum yang tidak hanya wangi, namun juga anti bakteri untuk pakaian selama 1 bulan tanpa di cuci.

Jadi, menggunakan Partikel Silver Nano untuk membunuh kuman yang dimasukan kedalam parfum. Ada kejadian menarik saat aku mempresentasikan hasil penelitianku. Ada yang bertanya “Itu Nanotechnology seperti apasih?” aku mendapat pertanyaan tersebut dari PhD Student.

Lalu aku mendeskripsikan mana yang mempunyai Surface lebih besar, bola atau pasir seukuran bola, lalu dia menjawab “bola”. Padahal jawaban yang benar adalah pasir seukuran bola. Nah dari Surface yang besar berarti ukurannya kan sangat kecil, kita bisa membunuh bakteri sampai virus ke RNA nya.

Bedanya bakteri dengan virus adalah, bakteri punya DNA dan RNA, sedangkan virus hanya punya RNA. Nah Silver Nano ini bisa memotong RNA virus yang ukurannya 5 nanometer. Nanometer itu ukuran 10 pangkat minus 9, kalau mikrometer ukurannya 10 pangkat minus 6 aja.

Saat itu pesertanya ada dari China, Korea, Jepang, US dan Jepang. Dan pesertanya nggak ada S1, hanya aku. Jadi, disana aku di panggil profesor.

Dari mana Dimas mendapat informasi mengenai ajang Paper Research Presenter tersebut?

Aku dapat informasi mengenai dari  Paper Research Presenter about Nanotechnology for Biomedic Innovation in International Conference on Supply Chain and Technology Innovation (ICOSTI) Korea Selatan itu dari web www.conferencealerts.com. Sebenarnya ingin ke Korea aja, karena udah biasa ikut konferensi. Nah kebetulan konferensi ini sesuai dengan riset aku.

Selain itu, syaratnya cukup sederhana. Hanya memiliki penelitian yang sesuai dengan topik.

Dan aku bersyukur mendapat support dana dari PT Arun NGL, salah satu perushaan gas USA di Aceh. Selain itu, aku juga dapet support dari kampus dan Kemendikbud.

Adakah pengalaman berharga yang Dimas peroleh dari ajang Paper Research Presenter di Korea Selatan?

Terpilih sebagai presenter termuda Paper Research Presenter about Nanotechnology for Biomedic Innovation ICOSTI Korea Selatan ini merupakan hal yang luarbiasa buat aku. Selain itu, aku masih mengingat kata-kata dari bintang tamu saat itu. Dia berkata “Hundreds failed result one success”. Aku memiliki prinsip untuk dapat satu keberhasilan harus mencoba tiga kegagalan, jadi tidak usah takut gagal.

Aku sering sekali gagal, namun aku tetap percaya dengan apa yang aku lakukan. Karena orang lain tidak pernah melihat prosesnya, tapi hanya hasilnya saja, dan itu wajar.

Lalu bagaimana dengan proses seleksi papernya ?

Proses seleksi Paper Research Presenter about Nanotechnology for Biomedic Innovation ICOSTI aku enggak tahu pastinya. Jadi, dari Indonesia hanya aku dan temenku. Saat itu langsung mengajukan aja ke panitia di Korea via easychair gitu sistem submit paper. Proses seleksi oleh panitia Korea, waktu yang dibutuhkan dari submit sampai pengumuman selama 4 bulan. Dan memang aku sudah memiliki ide mengenai penelitian parfum ini selama 6 bulan.

Hal pertama yang Dimas lakukan, setelah mengetahui bahwa paper kamu diterima untuk di presentasikan?

Waktu aku tau paper aku diterima di ajang Paper Research Presenter about Nanotechnology for Biomedic Innovation ICOSTI), aku langsung minta revisi motode ke dosen. Aku takut tidak maksimal jika sudah sampai di Korea. Aku juga latihan presentasi, revisi powerpoint. Aku sengaja memilih topik ini. Karena, teknologi nano buat fashion jarang dibahas dan kalau unik biasanya bisa lolos. Yang lain bisa saja untuk make up, pemutih wajah dari teknologi nano ini.

Selain itu, banyak yang malas mencuci pakaian, dan kalau tidak dicuci pasti banyak bakteri. Nah aku berfikir apa yang nggak rumit tapi tetap bersih. Dan dapatlah ide parfum itu.

Saat percobaan, pernahkah Dimas gagal? Atau justru langsung berhasil?

Sampai proses aku terpilih sebagai presenter termuda Paper Research Presenter about Nanotechnology for Biomedic Innovation ICOSTI tidak mungkin aku tidak pernah gagal. Gagal sudah pasti pernah, tapi secara teoristis bisa. Faktor kegagalan nya karena alat di Indonesia nggak advance, jadi harus vakum ruangannya. Gagal adalah hal biasa, karena riset sudah biasa kalau gagal. Yang terpenting teorinya berhasil.

Dimas ceritakan dong rangkaian acara selama mengikuti Paper Research Presenter about Nanotechnology di Korea Selatan?

Jadi acara di Paper Research Presenter about Nanotechnology for Biomedic Innovation in International Conference

on Supply Chain and Technology Innovation (ICOSTI) Korea Selatan ini terdiri dari :

Hari pertama setelah aku sampai, sorenya langsung jalan-jalan ke Namsan Tower di Seoul, yang ada di film Man From Another Star.

Hari kedua, ini adalah acara konferensinya, aku prsentasi di Daejeon di Chungnam National University seharian full sambil nonton seminarnya.

Hari ketiga, ada FGD gitu bersama mahasiswa PhD Master Chungnam National University.

Hari keempat, kunjungan ke Pusat Samsung Development, disini kita liat samsung RnDnya.

Hari kelima sampai ke dua belas, kita jalan-jalan ke Istana Gyeongbok, Museum Militer Korea, Istana Gyeongbok, Sungai Chenggyeon (ini hebat banget, sungai buatan yang airnya bersih lewat tengah kota Seoul).

Aku juga ke Museum Perjuangan Korea dan ada barbeque gt d KBRI Seoul. Jadi, selama sisa hari diundang ke KBRI buat makan dan ke daerah Muslim Community di Seoul.

Ada nggak sih tantangan terberat yang Dimas hadapi selama mengikuti Paper Research Presenter tersebut?

Tantangan sebelum aku terpilih sebagai presenter termuda Paper Research Presenter about Nanotechnology for Biomedic Innovation ICOSTI sudah ada dimulai dari persiapannya, buat papernya, submitnya sama presentasinya.

Tapi selama presentasi papernya aku percaya diri aja. Didalam hati bilang “Udah sampai sini, jauh-jauh, jangan malu-maluin Negara”. Aku juga sempat di puji sama audience karena ternyata presentasi aku bagus dan nggak grogi. dan aku terpilih sebagai presenter termuda yang dari awal emang aku menargetkan ini.

Bagiamana cara kamu mengejar mata kuliah yang tertinggal?

Untuk acara ini udah di izinin, dan waktu masuk aku pinjem catetan temen. Selain itu aku juga harus pintar membagi waktu. Caranya dengan mengurangi waktu tidur. Pagi kuliah, siang sampai sore organisasi. Malam mengerjakan tugas atau setiap weekend tugas-tugas kuliah dikejakan sampai semua selesai.

Selain itu, setiap mau berangkat konferensi, pasti udah harus mengerjakan tugas-tugas yang mau dikumpulin lalu dtitipin ke temen.

Di waktu dekat, negara mana yang akan Dimas kunjungi?

Insyaallah Agustus ini ke Singapore dan November ada tawaran Internship di Osaka research internship gitu selama 1 minggu di Osaka University. Alhamdulillah semua biaya ditanggung oleh pihak kampusnya dan dibayar 30 ribu Yen nama programnya Couple Internship Program.

Kalau di gambarkan dalam 3 kata, menurut Dimas bagaimana sih karakter anak muda Indonesia?

Menurutku anak muda Indonesia itu kreatif, inovatif, cuma kurang percaya diri.

Kreatif : Kita punya anak muda yang bisa menyelesaikan banyak masalah, cuman nggak percaya diri nunjukinnya

Inovatif: Kita punya anak muda yang bisa merekayasa teknologi negara lain dan diimplemetasiin di Indonesia. tapi lagi-lagi nggak percaya diri. Jadi semua ide kreatif dan inovatif nggak keliatan di anak muda kita buat outputnya.

Harapan dan pesan apa yang ingin Dimas sampaikan untuk generasi muda Indonesia?

Jangan pernah takut gagal. Takut gagal akan membuat kita nggak punya rasa percaya diri, nggak punya rasa percaya diri membuat kita mati kreatif & inovatifnya. Gagal itu biasa kok, berhasil itu cuma bonusnya

Pesan: Jadilah pemuda kritis, tapi solutif

Harapan: Semoga makin banyak pemuda Indonesia yang IDP (individual development planning) nya untuk membangun Indonesia, bukan ego masing-masing yang tercantum di IDP itu.

Itulah sedikit kisah yang Dimas bagikan untuk kita sebagai generasi penerus bangsa. Kita sebagai anak muda memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai kesuksesan kita masing-masing. Masalahnya adalah kemaauan. Setelah membaca kisah Dimas ini semoga kita semakin memilki kemauan untuk terus berprestasi. Bukan untuk diri sendiri, tapi untuk bangsa dan untuk negeri.


[Bernhart Farras]