Menggali Ilmu sampai ke Thailand Reza Saputra Tetap Ingin Memajukan Indonesia

Menggali Ilmu sampai ke Thailand Reza Saputra Tetap Ingin Memajukan Indonesia

posted in: Konten, Media, Tertulis, Wawasan | 0

Sebuah kata bijak mengatakan “tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”. Kalimat tersebut menggambarkan bagaimana seseorang tidak memiliki batasan dalam mencari ilmu. Hal inilah yang juga dilakukan oleh Reza Saputra. Pemuda berdarah Aceh ini menggali ilmu sampai ke Thailand melalui program SCG International Internship Program Year 3, Thailand  2015 untuk dapat mengembangkan potensi yang ia miliki.

Usaha berbanding lurus dengan hasil.

-Reza Saputra-

Reza Saputra adalah mahasiswa Teknik Pertambangan Universitas Syiah Kuala. Reza Saputra atau yang akrab dipanggil Reza merupakan salah satu mahasiswa terpilih dari 10 delegasi Indonesia untuk program SCG International Internship Program Year 3, Thailand  2015. Reza memang sudah memiliki keinginan untuk dapat menggali ilmu ke luar negeri, sampai pada akhirnya bisa memperoleh kesempatan magang disalah satu perusahaan di Thailand selama 1 bulan. Reza yang memiliki hobi menggambar ini, mempunya sebuah cita cita yaitu sebagai ‘mine planning and mine designer’. Prestasi Reza selain menjadi delegasi Indonesia untuk program International Internship Program Year 3, Thailand  2015, Reza juga dianugerahi gelar mahasiswa berprestasi I Teknik Pertambangan Universitas Syiah Kuala.

Berikut adalah cerita menarik dari Putra Reza yang menggali ilmu sampai Thailand.

Halo Reza, sedang sibuk apa nih sekarang?

Hai Indonesia Sekarang, saat ini aku sedang fokus untuk menyusun kerja praktekku. Jadi, aku habiskan waktu untuk fokus pada hal tersebut.

Reza, SCG International Internship Program Year 3, Thailand  2015 itu program apa sih?

Jadi, program SCG International Internship Program Year 3 itu adalah program magang yang diikuti oleh pemuda-pemuda ASEAN pada sebuah perusahaan di Thailand. Program ini diselenggarakan oleh sebuah perusahaan besar yang berpusat di Thailand, yaitu Siam Cement Group (SCG). Dimana, dari Indonesia ada 10 mahasiswa terpilih. Program ini berjalan selama sebulan, mulai dari 15 juni – 14 juli 2015. Aku sengaja mengikuti program ini agar bisa menggali ilmu di negara Thailand.

Dari mana Reza mendapat informasi mengenai program tersebut?

Awalnya dapat info dari teman tentang program internship ini dan merasa pesimis juga sih karena baru kali ini mencoba mengikuti program skala international. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba. Berhubung aku juga punya target selama perkuliahan, yaitu menuntut ilmu di luar Indonesia minimal sekali selama perkuliahan, jadinya aku semakin menggebu-gebu. Ditambah lagi program yang satu ini ‘fully funded’. Aku pun mempersiapkan berkas untuk meng-apply program ini, yaitu 2 buah esai yang topiknya sudah ditentukan oleh pihak penyelenggara SCG international Internship Program Year 3.

Proses apa saja yang Reza lalui untuk dapat lolos di program tersebut?

Singkat cerita, pengumumannya itu sekitar 2 minggu setelah deadline esai. Setelah itu tahap wawancara di Jakarta tapi aku memilih melalui skype. Selang 1 bulan, pengumuman tahap wawancara pun dikeluarkan dan alhamdulillah aku lulus. Program ini diikuti oleh beberapa negara ASEAN, yaitu Indonesia, Filipina, Myanmar, Vietnam, dan Kamboja, namun untuk delegasi Kamboja baru dimulai pada bulan agustus 2015. Perwakilan dari Indonesia berjumlah 10 orang yang berasal dari kampus yang beragam. Kami dipertemukan di Jakarta pada 15 Juni di pagi harinya untuk mengikuti pre-orientation dan berangkat ke Thailand di sore hari. Nah, di Thailand, pada hari Senin sampai Jumat, kami bekerja di lokasi yang sesuai dengan jurusan masing-masing. Dan lokasi kerjanya juga berbeda, malahan sampai beda provinsi. Sedangkan saat weekend kami mengikuti kegiatan kunjungan ke tempat wisata dan bersejarah, juga kegiatan CSR perusahaan seperti menanam pohon bakau. Begitulah kegiatan kami selama sebulan di sana.

Adakah perbedaan yang Reza rasakan sebelum dan sesudah menggali ilmu sampai ke Thailand?

Wah. Pastinya rasa percaya diri aku meningkat drastis. Rasa ingin menjelajah dan menggali ilmu di belahan dunia lain aku juga meningkat. Kedisiplinan waktu membaik dan mulai untuk sangat menghargai perbedaan. Rasa ingin belajar aku juga meningkat, melihat para pekerja di sana benar-benar mengaplikasikan ilmunya selama perkuliahan seperti penggunaan software tambang salah satunya.

Perbedaan apa yang mencolok antara kebiasaan orang Thailand dengan orang Indonesia?

Saat menggali ilmu di Thailand aku melihat banyak perbedaan disana. Mereka sangat menghargai waktu. Buktinya saat waktunya bekerja, mereka sangat serius untuk bekerja dan melakukannya dengan sebaik mungkin. Tapi kalau udah tiba waktunya istirahat ni, mereka tidak membahas dan memusingkan diri dengan masalah pekerjaan. Dan dari kacamata aku, orang Indonesia masih banyak yang membahas masalah pekerjaannya saat waktu istirahat maupun weekend.

Mereka juga sangat menghargai dan menghormati yang namanya perbedaan. Saat di hari kerja, aku adalah satu-satunya muslim, dan mereka sangat terbuka kalau aku mau ibadah. Malahan mereka rela nganterin aku ke mesjid dan nungguin aku sampai selesai ibadah pada hari jumat. Wah, benar-benar salut deh untuk yang satu ini. Sebenarnya di Indonesia juga tidak berbeda jauh dengan Thailand, tapi sayangnya masih ada saja konflik-konflik antar agama.

Sebelumnya, apakah kamu pernah gagal dalam mendaftarkan diri untuk memperoleh beasiswa?

Gagal dalam tes sejauh ini alhamdulillah belum pernah, lagi pula aku juga tidak meng-apply terlalu banyak beasiswa. Tapi kalau gagal dalam selama proses mengapply lumayan sering, entah itu karena waktu, pemenuhan berkas, dan lainnya. Di kampus aku mencoba konsisten untuk meng-apply beasiswa PPA dan syaratnya pun tidak memperbolehkan dalam keadaan menerima beasiswa yang lain, jadi akupun menahan diri untuk itu.

Jujur saja, program intership di Thailand yang aku jalani itu adalah program berskala international pertama yang aku apply dan bersyukurnya aku dapat menyaingi sebanyak 500 lebih applicant dari seluruh wilayah di Indonesia.

Menggali ilmu sampai keluar negeri adalah hal baru untuk Reza. Lalu, bagaimana cara Reza menyesuaikan diri?

Nah itu dia, menggali ilmu sampai keluar negeri memang baru pertama kali aku jalani. Awalnya merasa sedikit kesulitan bagi aku, karena ini kali pertama aku merasakan kegiatan yang bertaraf international. Lambat laun aku mulai bisa menikmati kehidupan selama program berlangsung. Aku mencoba untuk memahami apa saja yang boleh dan harus dilakukan dan sebaliknya selama berada di sana. Dari hal-hal yang diperboleh pun masih harus aku sesuaikan dengan diri aku, jadinya tidak ada yang menjanggal dengan apa yang aku lakukan nantinya.

Untuk mendukung hal itu pun perlu didukung dengan kejujuran alias perlu keterbukaan di sana. Hal itu penting agar teman dan orang sekeliling bisa mengerti dan menghargai kita, jadinya kan hidup kita juga yang aman tenteram. Menjadi ramah dan saling sapa pun menjadi kebiasaanku selama di sana. Aku rasa hal ini tidak terlalu berat untuk dilakukan, karena tidak jauh berbeda dengan negeri kita Indonesia.

Setelah menggali ilmu sampai ke Thailand. Apakah Reza memiliki keinginan untuk menetap di luar negeri?

Setekah menggali ilmu ke Thailand, aku masih memiliki keinginan untuk belajar ke negara lain. Malah sekarang aku jadinya ingin meng-apply banyak program skala international (tidak menutup kemungkinan untuk skala nasional) karena aku bakalan mendapatkan banyak banget keuntungan dengan program-program seperti itu. Untuk keinginan berkerja dan menetap di luar negeri belum ditargetkan, soalnya masih cinta mati sama Indonesia. Garuda di Dadaku lah ceritanya.

Apa pendapat Reza mengenai pemuda Indonesia yang berprestasi justru lebih memilih menetap di negara lain?

Sebenarnya sangat disayangkan kalau anak Indonesia berprestasi memilih bekerja dan menetap di luar negeri. Menurutku, mereka membuat keputusan untuk bekerja ke luar negeri karena pemerintahnya benar-benar menghargai siapapun yang berprestasi dengan cara salah satunya dengan membayar mereka sesuai skill yang dimiliki. Jadi “gaji yang besar” bukanlah satu-satunya alasan mereka memilih ke luar negeri. Aku pikir ini semua mengenai apresiasi pemerintah terhadap putra putri berprestasi.

Menuntut ilmu memang sangat dianjurkan dan tidak ada batasnya, selama yang dipelajari adalah hal yang positif. Dimanapun kalian belajar sekalipun di luar Indonesia, jangan pernah lupa sama tempat asalmu ya. Bagaimanapun keadaan Indonesia, ya itulah tempat di mana kalian lahir dan dibesarkan.

Tanggung jawab membangun negeri bukanlah hanya pada satu atau dua orang saja, so mari kita bangun negeri Indonesia tercinta ini bersama-sama. Bawa pulang ilmu dan pengalaman berharga kalian untuk mereka yang membutuhkan. Jangan pernah takut untuk saling berbagi ilmu karena tidak akan berkurang kok apa yang udah kalian dapatkan, malahan bisa bertambah. Berpikir panjang juga untuk anak cucu kalian nantinya. Betapa bahagianya mereka ketika tahu bahwa keluarganya terdahulu merupakan bagian dari pembangun negeri. Karena generasi akan terus berganti, maka lahirkanlah generasi-generasi cerdas penerus bangsa.

Bukalah mata kalian, jangan selalu memandang sesuatu hal hanya dari sisi negatifnya saja. Cobalah untuk melihat dari sisi positifnya juga. Banyak sekali kekayaan Indonesia yang tidak dimiliki oleh negara lainnya. Untuk mengelola kekayaan ini butuh orang-orang yang berkualitas seperti kalian!

Ibaratnya di dalam kehidupan kita ini, kalau ada musibah yang menimpa kita, maka yang akan kita selamatkan terlebih dahulu adalah keluarga kita bukanlah tetangga kita apalagi mereka yang jauh entah dimana.

Apakah kita rela meninggalkan keluarga dan pergi menyelamatkan orang-orang yang belum pernah kenal sebelumnya hanya dengan beralasan “dibayar”. Tentu tidak! Jadi, silahkan tuntut ilmu di manapun tapi jangan pernah lupa sama tempat asalmu. Hadiahkan pada Indonesia dan berbanggalah menjadi warga negara Indonesia.

Selain alasan cinta Indonesia, apa yang membuat Reza enggan meninggalkan Indonesia?

Sebenarnya, itu udah mencakup semua alasan aku. Terlalu sayang untuk meninggalkan Indonesia yang sangat kaya akan sumber daya alamnya dan juga budaya yang sangat beragam. Jadi, jika semua orang berlomba untuk meniti karir ke luar negeri, maka Indonesia bakalan banyak kehilangan SDM berpotensi dan lambat laun akan terpuruk juga. Kita memang dianjurkan untuk tidak pernah berhenti menuntut ilmu dimana pun kita berada, hingga ke negeri Cina sekalipun sangat dianjurkan, namun bukan berarti untuk menetap dan berbakti pada negara tersebut. Mungkin istilahnya “berpaling hati”.

Melihat BJ Habibie, yang giat menuntut ilmu hingga ke luar negeri sekalipun, namun pada akhirnya juga kembali ke Indonesia untuk mengaplikasikan ilmu yang ia dapat. Lebih kurang yang saya inginkan adalah seperti beliau. “Pergi untuk kembali, bukan untuk selamanya”, lebih kurang begitu.

Selain itu banyak potensi yang bisa di kembangkan dari Indonesia. Potensi yang bisa dikembangkan khususnya di Aceh adalah potensi mineral tambang, terutama mineral industri. Kebetulan ini menyangkut dengan jurusanku juga.

Selain itu, anak-anak Indonesia juga Aceh menurutku juga sangat kreatif dan inovatif. Kalau di Aceh sekarang, banyak mahasiswa-mahasiswa yang sudah memulai usaha sampingan. Umumnya berjualan, baik itu makanan, perlengkapan elektronik, jam tangan, dan masih banyak lagi. Jadi aku ingin banget mensosialisasikan ke anak-anak muda yang ada di Aceh untuk menjadi produktif. Untuk itu aku harus mulai dari diriku sendiri (sebenarnya sambilan memotivasi diri sendiri juga.

Saat ini aku juga punya kerjaan sampingan yaitu jualan pulsa. Walaupun keuntungan yang didapat tidaklah seberapa, tapi kalau diatur dengan sebaik mungkin maka akan menjadi berharga juga. Setidaknya bisa nambah uang jajan harian dan juga bisa memperluas relasi. Di samping itu aku juga mengajar di salah satu bimbingan belajar di yang ada di Banda Aceh.

Menurut Reza, seberapa penting sih passion dalam mencapai cita-cita?

Passion itu sangat penting untuk mencapai cita-cita. Apalagi untuk menggali ilmu. Kalau kita menjalani sesuatu yang sesuai dengan passion, maka tidak akan merasa terbebani dengan apa yang kita lakukan. Dan hasilnya pun akan sesuai dengan yang diharapkan. So, kenali dulu passion kita, barulah kemudian dapat mencapai apa yang kita cita-citakan. Passion itu anugerah Tuhan yang telah dititipkan pada setiap manusia. Semakin kita bersyukur, maka semakin banyak yang kita dapat, begitu pula sebaliknya.

Adakah pesan dan harapan yang ingin Reza sampaikan untuk generasi penerus bangsa?

Muda mudi Indonesia, manfaatkan kehidupan  yang sementara ini dengan hal-hal yang bermanfaat. Lakukan segala sesuatu sesuai passion kamu dan pergilah untuk mengeksplorasi semua sudut bumi untuk mengeruk sejuta informasi dan pengetahuan juga pengalaman. Aplikasikan apa yang telah kamu dapat di dalam hidupmu dan berbagilah ilmu kepada sesama, karena generasi akan terus berganti. Hadiahkan itu semua untuk Indonesia dan berbanggalah menjadi putra putri Indonesia.

Gunakanlah sisa hidup ini untuk hal-hal yang bermanfaat. Teruslah meng-upgrade diri menjadi lebih baik dan berguna untuk banyak orang. Silahkan bermimpi, tapi juga harus siap untuk beraksi dan siap untuk gagal. Mencapai kesuksesan itu punya banyak jalan, tinggal kita yang memilihnya.

Karena setiap orang punya jalan dan cara yang berbeda untuk sukses, so jangan pernah ragu ya dengan pilihan dan bersungguh-sungguhlah untuk mencapainya. Dan pada akhirnya bersiaplah untuk sukses!

[Bernhart Farras / Bernhart Farras]